Monday, January 25, 2010

Mengundang Campur Tangan Tuhan

Saya yakin Anda sudah membaca cerita seru saya tentang campur tangan Tuhan yang membuat beberapa keajaiban dalam kehidupan saya. Mulai dari menang lomba, mendapatkan nilai UAN terbaik, sampai terpilih sebagai ketua 2 OSIS. Semuanya sangat seru, karena ada campur tangan Tuhan.

Dan kabar baiknya, campur tangan Tuhan itu bisa diundang! Ingin tahu caranya? Oke, sekarang marilah kita bahas sikap apa saja yang bisa kita lakukan untuk mengundang campur tangan Tuhan lebih banyak dalam kehidupan kita.

Yang pertama adalah usaha. Perjuangan. Tuhan suka orang-orang yang dengan sangat gigih memperjuangkan impian-impian mereka. Jika impian-impian mereka terlihat konyol (terlalu hebat untuk dirinya), Tuhan akan membantu mereka, tepat disaat usaha yang dapat mereka lakukan sudah habis. Artinya, saat mereka sudah berusaha maksimal dan menyerahkan sisanya kepada Tuhan (tawakal).

Lain dengan orang yang tidak memiliki semangat juang. Untuk impian mereka sendiri saja meraka malas, mana mungkin Tuhan mau membantunya? Tapi karena Tuhan Maha Pengasih, Beliau akan mengujinya dengan berbagai cara agar orang tersebut sadar. Hanya Tuhan yang tahu.

Yang kedua adalah memohon (berdoa). Permohonan + usaha gigih yang Anda lakukan adalah doa paling mujarab untuk mewujudkan apapun yang Anda impikan dalam hidup.

Sekarang sudah tahu kan apa rahasianya? Coba Anda terapkan. Jika Anda sudah berhasil, tetap ingat untuk menjadi orang yang menghargai. Tetap hormatlah kepada siapapun. Jangan pernah sombong. Tuhan tidak suka membantu orang yang besar kepala.

Oke kawan?

Friday, January 22, 2010

Berteman dengan Ikan Hiu

Masih ingat pelajaran IPA waktu SD dulu, tentang simbiosis komensalisme antara ikan hiu dengan ikan remora? Yup! Dalam hidup ini, kita juga perlu berteman dengan ‘ikan hiu’, seperti yang dilakukan ikan remora tersebut.

Jika dalam hubungan antara 2 makhluk laut itu, keuntungan yang didapat ikan kecil adalah rasa aman dan sisa makanan, dalam pertemanan manusia bisa berarti ilmu dan berbagai kemudahan. Seperti yang pernah saya alami sendiri. Saat awal-awal ngeblog dulu, saya rajin sekali bermain ke zalukhu.com (sekarang isinya sudah berubah semenjak pemiliknya juga berubah). Secara tidak langsung, keakraban mulai terjalin antara ikan hiu (Bang Zalukhu) dengan ikan remora (saya). Dan berkat itu, selain mendapatkan banyak sekali ilmu, saya juga kecipratan sedikit-banyak ketenaran dari Bang Zal. Pasalnya, waktu itu Bang Zal pernah menyebutkan nama saya dan memberikan link ke blog saya dalam suatu postingnya. Dan bisa Anda tebak apa yang terjadi selanjutnya.

Persis seperti simbiosis komensalisme yang saya sebutkan di awal. Saya mendapatkan keuntungan yang banyak dari si ikan hiu, tapi ikan hiu tidak mendapatkan kerugian apapun. Kelihatannya tidak adil ya? Tapi memang hanya itulah yang bisa dilakukan oleh ikan kecil. Oleh karena itu, kita perlu menjadi ikan besar, agar suatu saat, kita juga bisa membesarkan ikan-ikan kecil lain yang sedang bertumbuh. Dengan begitu saya rasa kita sudah berbuat cukup adil.

Well, menurut saya, inilah cara tercepat untuk menjadi orang hebat. Temukan orang-orang yang sudah sukses dalam bidang-bidang yang ingin Anda kuasai, dan bertemanlah dengan mereka. Ingat, saya menganjurkan Anda untuk berteman, bukan untuk memanfaatkan. Manusia berbeda dengan ikan hiu dan remora, jadi cukup contoh konteksnya saja ya dalam analogi yang saya sebutkan di atas.

Wednesday, January 20, 2010

Campur Tangan Tuhan

Pernah mengalami keberhasilan dalam suatu hal yang sepertinya Anda tidak mungkin berhasil didalamnya? Saya pernah! Bahkan mungkin sering, tapi saya memutuskan untuk hanya mengingat beberapa diantaranya (baca: banyak yang lupa).

Masa SD

Pertama, perkenankan saya bercerita tentang masa-masa SD saya. Waktu itu (saya kelas 5), Bu Kasiyati, guru IPA kami sedang mengadakan ulangan. Dan kebetulan, waktu itu lagi musimnya lomba. Jadi mungkin Bu Kasiyati menggunakan hasil ulangannya tersebut sebagai salah satu tolok ukur untuk merekrut siswa yang kompeten untuk diikutkan lomba. Dan bisa Anda tebak, siapakah yang terpilih?

Well, singkat cerita, saya mengawalinya dengan memenangkan lomba tingkat Desa Genteng Wetan. Itu saja sudah kelihatan mustahil bagi saya, ngelihat wajah-wajah ‘musuh’ saya yang kayak buku IPA semua. Tapi, itu terjadi! Saya masih ingat dengan sangat jelas, saat saya keluar dari ruangan tempat babak final diselenggarakan itu dengan tangan gemetaran (karena grogi) disambut tepuk tangan meriah teman-teman saya. Ada rasa senang (atau bangga) tersendiri. Dan saya pun cepat-cepat pulang dengan semangatnya, karena sudah tidak sabar ingin menceritakan keajaiban itu pada keluarga saya.

Juara 1 tingkat desa belum membuat saya berpuas diri. Saya semakin rajin belajar, karena saya telah merasakan bagaimana enaknya menjadi juara. Dan tangan Tuhan kembali menuntun saya ketingkat yang lebih tinggi. Saya menjadi juara 1 tingkat Kecamatan. Saya juga masih ingat, waktu itu betapa senang + gorginya saya, dengan tangan dingin yang masih gemetaran dan senyuman lebar di wajah saya, rival-rival saya mengucapkan, “Selamat ya!” Ketika itu saya merasakan bagaimana rasanya disukai dan dibutuhkan banyak orang. Banyak sekali yang minta diajarin, dicontekin, dsb.

Dan disinilah saya mulai ceroboh. Saya mulai lengah. Anak kecil yang baik itu kini mulai menjadi agak sombong. Dia risih dimintai tolong oleh banyak teman. Ucapan dan perilakunya mulai terasa pedas. Dia mulai menganggap dirinyalah yang paling pintar, sehingga tidak perlu belajar lagi.

Dan celakalah bagi orang yang seperti itu. Saya melanjutkan petualangan saya pada OSN tingkat Kabupaten. Dan bisa Anda tebak lagi, Tuhan tidak berpihak kepada orang sombong. Saya kalah, bahkan oleh teman saya yang pada pertandingan tingkat desa dan kecamatan selalu kalah dengan saya. Kini dia masuk 5 besar, sementara nama saya tidak tersebut sama sekali.

Saya mulai kehilangan kepercayaan diri. Tapi syukurlah, saya masih kecil waktu itu. Jadi saya tidak berpikir aneh-aneh dan terlalu dalam seperti saya saat ini. Dalam waktu sebentar, saya pulih. Saya kembali menghormati kebaikan, dan hasilnya… Campur tangan Tuhan kembali membuat saya mendapatkan nilai UAN murni tertinggi tingkat Desa. Ya lumayanlah…

Masa SMP

2 tahun kemudian, saya sudah kelas VIII SMP, di SMP favorit di kota saya. Dan tangan Tuhan mulai menuntun saya lagi ke kursi-kursi juara. Secara tidak sengaja, saya menjadi wakil ketiga dari Kabupaten Banyuwangi untuk berlaga di tingkat Provinsi Jawa Timur, OSN bidang Biologi. Kenapa secara tidak sengaja? Karena memang begitu adanya. Teman-teman saya secara asal-asalan menunjuk saya sebagai perwakilan kelas untuk mengikuti seleksi yang diadakan sekolah, dan parahnya seleksi diadakan hari itu juga, dan saya belum belajar sama sekali. Tapi itulah keberuntungan.

Tapi kebodohan kembali berulang. Saya mulai sedikit sombong dan malas. Akibatnya, saya menjadi yang paling bodoh ketika teman-teman di Asrama Haji Sukolilo mengajak berdiskusi dan belajar Biologi bareng. Saya hanya diam dalam kelompok yang ceria itu. Saya malu dan sangat menyesal dalam hati. Saya memarahi diri sendiri. Dan sebagai hasilnya, sayapun tidak beruntung untuk melanjutkan lomba ke tingkat Nasional.

Saya pulang ke Banyuwangi, dan sekolah berjalan seperti biasa. Tapi ada yang beda dengan teman-teman. Mereka lebih respect. Dan syukurlah, kali ini saya dapat menikmatinya, walaupun sebentar. Karir saya terus naik. Saya memenangkah berbagai perlombaan yang diadakan SMA-SMA favorit se Banyuwangi, dan bahkan sebagai puncaknya adalah ketika kelompok saya menjadi juara 6 pada lomba tingkat 4 Provinsi yang diadakan oleh SMU 2 Darul Ulum Jombang.

Dan lagi-lagi, karena belum lulus juga, saya diuji dengan kesombongan lagi. Ditambah lagi saya mulai terlibat pergaulan kurang baik waktu itu. Sekolah saya menjadi semakin memble. Naik ke kelas IX, keadaan saya bukannya semakin baik, malah sebaliknya. Prestasi terus menurun. Beruntung saya masih bisa lulus UAN dengan nilai yang cukup, dan bisa masuk SMA favorit dengan aman karena punya piagam.

Masa SMA

Di SMA keajaibannya lebih gila lagi. Saya yang anaknya pendiam, pemalu, dan tidak punya pengalaman tentang keorganisasian, terpilih menjadi Ketua 2 OSIS, pada waktu kelas X. Prosesnya bagaimana?

Bermula dari anggapan polos saya, “Wah… Keliahatannya enak ya jadi OSIS. Bisa sibuk dengan kegiatan-kegiatan keren itu. Dan kelihatannya, akan keren kalau aku memakai jaket OSIS yang penuh wibawa itu.” Tanpa modal pengalaman, saya pun mengikuti ujian OSIS. Ujian tulis lolos, dengan hasil tertinggi dari seluruh peserta pada bagian soal-soal dari Ketua Umum.

Dari sinilah keajaiban itu mulai rumit. Akan sangat panjang kalau saya paksa ceritakan disini. So, saya singkat saja ya?! icon biggrin Campur Tangan Tuhan

Sayapun berorasi ke kelas-kelas, sama seperti calon-calon lain. Dan dapatkah Anda bayangkan, apakah yang membuat saya yang pemalu ini kuat melakukan itu? Saya juga heran, padahal saya cuman menargetkan untuk menjadi anggota SIE Budi Pekerti pada blanko pendaftaran saya, tapi perjalanan memaksa saya menjadi Ketua 2.

Sejak saat itu, kehidupan saya banyak mengalami pergolakan. Banyak keadaan dan kejadian yang tidak nyaman. Banyak tekanan dari dalam maupun luar. Banyak stress. Saya tidak tahu apakah itu karena faktor usia, tapi diluar itu semua, ternyata saya sedang dibaikkan. Saking caranya aja yang kurang enak dirasakan. Tapi mungkin inilah cara tercepat untuk membuat saya baik.

Dan sedikit-demi sedikit, saya menemukan teman-teman, guru, bacaan, dan buku-buku yang membuat saya belajar berpikir. Dan perlahan, saya mulai mengerti tentang campur tangan Tuhan dalam membaikkan kehidupan saya. Ya, walaupun masih sedikit.

Bagaimana dengan Anda kawan? Apa pengalaman ajaib Anda?

Monday, January 18, 2010

Apa Gunanya Sekolah?

Pertanyaan klasik ini sering menghantui banyak remaja di dunia. Termasuk saya, dan mungkin Anda. Bahkan, akibat terlalu memikirkan ini, saya pernah mengalami keputusasaan dan kemarahan yang cukup panjang terhadap sekolah. Saya merasa sekolah lebih banyak membuang waktu, daripada memanfaatkan waktu dengan hal-hal positif. Kenapa? Karena lebih banyak pelajaran di sekolah yang sebenarnya kurang saya sukai dan saya pikir kurang (bahkan tidak akan) bermanfaat buat saya nantinya.

Bayangkan saja, apa gunanya belajar kimia untuk seseorang yang berencana dan sangat berniat dalam bisnis? Bukankah lebih baik kalau kita menggunakan waktu kita yang begitu berharga itu untuk hal-hal yang benar-benar kita butuhkan dan bermanfaat buat karir kita kedepannya? Bukankah hidup akan lebih menyenangkan jika kita bisa menggunakan waktu kita untuk menjalani dan mempelajari hal-hal yang kita sukai?

Ditambah lagi, dengan seabreg masalah lain seperti guru yang kurang perhatian, terlalu berorientasi pada nilai, dan pilih kasih. Teman-teman yang kurang cocok. Fasilitas yang kurang memadai. Kegiatan extrakurikuler yang jelek-jelek. Bukankah itu sempurna? Bukankan itu sudah sangat kuat untuk membuat kita berhenti dari sekolah?

Tapi coba kita pikir lagi, kalau tidak sekolah, hal-hal positif apa yang akan kita lakukan? Apakah kita bisa mencapai cita-cita dan impian kita jika tidak sekolah? Okelah, ada beberapa orang hebat dan beruntung yang bisa melakukannya. Tapi apakah Anda yakin akan diridhoi Tuhan untuk itu? Lalu, apakah Anda tega melihat orang tua Anda menangis, karena Anda telah menyianyiakan pengorbanan dan kasih sayang mereka untuk memberi Anda pendidikan yang lebih baik daripada yang dapat diberikan orang tua mereka dulu agar nasib Anda lebih beruntung dari orang tua Anda?

Ada yang bilang, dunia ini bagaikan permainan ular tangga. Banyak petak-petak yang harus kita lalui. Kadang dipetak-petak itu ada sesuatu yang menyenangkan, kadangpula ada yang tidak menyenangkan. Tapi bagaimanapun juga, untuk mencapai finish, kita harus terus berjalan. Tidak peduli suka atau tidak dengan apa yang sedang kita mainkan saat ini.

Segala sesuatu ada masanya. Begitu juga sekolah. Tidak selamanya kita sekolah kan? Jadi, bagaimana kalau kita nikmati saja masa-masa yang gak bakal terulang lagi ini?

Coba kita buka pikiran kita lagi. Sebenarnya menghabiskan waktu disekolah itu bisa jadi sangat menyenangkan. Kita bisa bermain dengan teman-teman yang sebenarnya baik. Kalaupun kadang-kadang mereka berlaku tidak baik, mungkin itu juga karena perilaku kita yang kurang baik kepada mereka. Pernah mendengar bahwa reaksi teman-teman kita kepada kita, adalah cerminan dari perilaku kita terhadap mereka?

Atau kalaupun mereka tetap berlaku tidak baik walaupun kita sudah baik, mungkin saja mereka sedang ada masalah. Entah dengan ortu, sahabat, guru, bahkan pacarnya. So, coba kita pahami saja dan berusaha terus berlaku baik kepadanya. Saya yakin tidak lama kemudian, perilaku teman kita akan menjadi sebaik perilaku kita kepada mereka. Banyak yang sudah membuktikannya, termasuk saya. Kenapa Anda tidak?

Kita juga bisa mulai membiasakan diri untuk menyukai pelajaran-pelajaran yang sebelumnya tidak kita sukai. Lalu sedikit demi sedikit, mencoba menjadi berprestasi di dalamnya. Ada sensasi tersendiri yang akan kita rasakan. Kita akan belajar bagaimana rasanya berjuang, bagaimana rasanya harus berdisiplin, bagaimana rasanya jujur saat ujian, bagaimana menjadi proaktif di kelas, bagaimana menjadi lebih menghargai guru, dan yang lebih nikmat, bagaimana rasanya mensyukuri keberhasilan yang kita raih atas usaha-usaha kita itu. Ya, itu semua bisa kita dapatkan dengan mempelajari kimia!

So, apa gunanya kita sekolah?

Friday, January 15, 2010

Tips Sukses Ujian

Dalam setiap ujian, entah ujian semester, mid semester ataupun UAN, pasti setiap orang ingin sukses. Termasuk kita, saya dan Anda. Tapi tidak setiap orang bersedia membayar harganya. Tidak setiap orang yang ingin sukses tersebut tahu caranya. OK well, sekarang mari kita bahas bagaimana agar kita sebagai pelajar bisa sukses dalam setiap ujian yang kita jalani.

Kuncinya adalah, setiap hal butuh persiapan. Dan berdasarkan pengalaman saya, hal inilah yang berperan sangat besar dalam kesuksesan ujian. Jadi, tipsnya untuk berhasil dalam ujian apapun adalah, bersiap-siaplah. Jadikan setiap hari sebagai persiapan. So, Anda perlu tahu kapan Anda menghadapi ujian, untuk kemudian menyusun rencana sukses Anda. Kalau bisa, ketahui tanggalnya dengan tepat. Tanyakan kepada Waka urusan Kurikulum di sekolah atau guru BK Anda. Ketepatan menentukan kemenangan.

Setelah itu, mari kita tarik dari masa depan ke masa sekarang. Dari saat ujian itu dilaksanakan hingga di saat Anda berada sekarang, Anda punya waktu berapa banyak? Catat itu. Lalu hitung dengan berapa banyak pelajaran yang Anda ingin sukses dengannya. Tempatkan hanya beberapa sebagai prioritas. Jangan menginginkan semua pelajaran mendapatkan 100. Pilih beberapa saja yang Anda benar-benar berminat (menyukainya) dan kemampuan Anda cukup baik disana. Saya lemah dalam matematika, oleh karena itu saya menargetkan pelajaran selain matematika, fisika dan kimia (ya seperti Bahasa Inggris, Bahasa Indonesia, Biologi, Agama, Sejarah dsb.) untuk mendapat nilai maksimal. Apa itu tidak terlalu banyak? Tidak. Kebetulan di kelas IPA, porsi pelajaran selain IPA cukup sedikit, jadi perhatian saya cukup untuk pelajaran-pelajaran itu.

Lalu untuk pelajaran matematikanya gimana? Apa saya mengabaikannya? Tidak… Tapi saya menargetkan untuk ‘cukup dapatkan nilai sedikit di atas standar’. Kebetulan standar di sekolah saya sudah cukup tinggi, rata-rata >70. Jadi mendapat nilai sedikit lebih tinggi dari itu pada pelajaran-pelajaran yang bukan core competence saya, saya rasa cukup masuk akal dan memuaskan.

Kembali ke persiapan kita tadi. Sekarang Anda sudah tahu berapa waktu yang Anda punyai untuk persiapan. Maka langkah selanjutnya adalah susunlah rencana strategis Anda untuk menang. Susunlah jadwal kegiatan selama masa itu. Dan mulailah bergerak sekarang. Tidak ada waktu untuk menunggu. Tidak perlu pusing menyusun rencana sampai sempurna, karena yang akan membuatnya sempurna adalah action kita setelahnya.

Jalani hari-hari persiapan Anda ini dengan sebaik-baiknya. Terima pelajaran di kelas dengan lebih baik, karena dengan begitu, Anda akan punya lebih banyak waktu untuk belajar di rumah (karena Anda tidak perlu mengulang pelajaran di kelas). Nikmati semua proses tadi, tidak usah merasa tertekan atau terburu-buru. Jaga fokus Anda, itu yang penting.

Bagaian terpenting sudah Anda ketahui. Masih ada bagian yang lain? Ya, tentu. Jangan lupakan Yang Di Atas. Iringi persiapan Anda dengan memohon. Jadikanlah Beliau satu-satunya tumpuan Anda. Mengeluhlah, dan berharaplah hanya kepadaNya. Karena di saat usaha kita sudah tidak mampu lagi, hanya Tuhanlah yang bisa membuat kita tetap berhasil.

Selain berdoa, juga jaga kondisi fisik dan mental Anda agar tetap segar. Tidak perlu terlalu memaksa diri. Tidak perlu belajar sampai jam 2 malam, tidur 3 jam, lalu ujian. Olahraga yang cukup. Hiburan yang cukup. Usahakan semuanya tetap seimbang, sesuai porsinya.

Sekarang Anda sudah sangat kuat. Dengan usaha-usaha dan doa Anda, Anda didukung Tuhan. Apalagi yang bisa mengalahkan Anda?

Oleh karena itu, yakinlah. Hargai usaha Anda selama berbulan-bulan itu dengan tidak mencontek, ngerepek (contek buku), atau SMS teman. Itu bukan cara-cara remaja keren mendapatkan prestasi, kawan! Kita sudah bersiap, dan kita juga sudah berdoa dengan tulus. Oleh karena itu, yakinlah. Kita punya kekuatan besar untuk mengerjakan semuanya sendiri!

Tuesday, January 12, 2010

Ada Apa dengan Ujian?

Sebelumnya, saya mau selebrasi sedikit atas selesainya ujian semester di sekolah saya. Horay!!! Bukan (hanya) selesainya ujian sih yang saya rayakan, tapi karena berhasilnya saya menjalani ujian ini sesuai rencana. Saya berhasil menikmati proses-proses yang saya harapkan, walaupun dalam beberapa pelajaran (yang berhubungan dengan rumus dan angka) hasilnya kurang memuaskan (baca: remidi).

Ini posting pertama untuk tahun ini, sekaligus sebagai pertanda lahirnya kembali blog ini dalam format baru. Jiwa baru, tujuan baru, yang diharapkan dapat memberikan manfaat yang lebih banyak untuk semakin banyak orang.

Well, kali ini saya ingin membahas penyakit yang melanda sebagian besar siswa di Indonesia. Ya, setidaknya di lingkungan terdekat saya. Posting ini tentang UJIAN.


Awal mulanya begini. Saya sedang Facebookan -waktu itu hari pertama saya ujian-, nah kok saya nemu status yang lucu-lucu seperti ini:


Apa yang ada di pikiran Anda ketika membaca status-status di atas? Ingin tertawa? Hahaha… Sama seperti saya. Kaget? Ah sepertinya enggak. Atau biasa saja? Ya mungkin karena sudah terlalu sering ya…

Di sinilah letak permasalahannya. Hal-hal seperti di atas, bahkan sudah membudaya di kalangan remaja. Bisa Anda bayangkan, bagaimana jadinya nanti, jika sejak muda, kepesimisan, ketidakjujuran, dan kegotong royongan yang salah itu terus dipelihara? Saya jadi ingat ucapan seorang bijak dalam buku yang saya baca, bahwa manusia akan menjadi seperti apa yang berulang-ulang mereka lakukan.

Oke, sejenak lupakan yang konyol-konyol di atas dan simak status yang agak mellow ini:


Hm… Apa dia tidak menghargai kesakitan tubuhnya gara-gara terus-terusan SKS dengan mengucapkan doa seperti itu? Ya, semoga saja itu hanya bercanda.

Seperti yang satu ini:


Memang berat menjalani hal-hal yang kita belum tahu apa manfaatnya buat kita. Apalagi kalau hal itu menyita banyak energi dan waktu. Kalau sudah begini, sepertinya guru-guru BK harus lebih aktif nih memberikan pemahaman yang benar kepada murid-muridnya.

Btw, teman-teman punya opini tentang ini? Apa tujuan sekolah menurut Anda? Saya akan share pandangan saya tentang sekolah dan tips-tips untuk sukses ujian pada post mendatang. Nantikan ya!

Sebagai penutup artikel ini, mari kita simak dan serap baik-baik nasihat dari teman kita satu ini:



Bagaimana tanggapan Anda?