Pelajaran dari Lomba RaNCo November 2010

Ini lomba terlama yang pernah saya ikuti. RaNCo, kependekan dari Radar News Competition, adalah lomba yang digelar oleh Radar Banyuwangi untuk pelajar SMA/sederajat. Para peserta diminta menjadi wartawan dadakan dan menulis satu halaman koran, yang berikutnya halaman koran tersebut akan diterbitkan dalam Harian Radar Banyuwangi. Karena pesertanya ada 30, maka untuk penerbitannya saja memakan waktu satu bulan lebih (karena hari Minggu tidak terbit dan pernah beberapa hari selain minggu juga tidak terbit karena pihak Radar menerima terlalu banyak iklan). Belum lagi waktu untuk penulisan (sebelum penerbitan) dan pameran (setelah diterbitkan dan dihias sedemikian rupa). Total kira-kira 2 bulan saya dan 4 orang teman saya dalam satu kelompok mencurahkan waktu untuk lomba ini.

Alhamdulillah segala daya dan upaya yang kami curahkan dibalas dengan hasil yang memuaskan. Dan ini beberapa pelajaran yang kami dapat dari kegiatan tersebut:

Pertama, badan yang terdiri dari organ yang lengkap, Insya Allah (dan secara logika pasti) bekerja lebih baik daripada badan yang tersusun hanya dari satu macam organ. Kelompok kami terdiri dari orang-orang dengan kemampuan yang saling melengkapi, ada ketua, ada penulis, ada fotografer, ada editor gambar, dan ada pembicara.

Kedua, serius. Dalam lomba RaNCo tersebut 30 peserta bersaing merebutkan 6 gelar yang berbeda. Ada the best content, the best design, the best on application theory, the best on writing feature, the best of the best (unggul dalam 4 kategori yang disebutkan sebelumnya sekaligus), dan the most favorite (yang paling banyak mengumpulkan ballot/kartu dukungan). Kami belajar banyak hal dalam proses pengejaran kami untuk gelar the most favorite itu. Serius. Ya, jika kami benar-benar ingin menang, kami harus benar-benar berusaha. Tim lain bekerja keras. Jadi jika kami setengah-setengah, pasti kami kalah. Tapi jika kami total, kami mungkin menang.

Karena sudah ¼ jalan, saya dan teman-teman memutuskan untuk serius, maka kami serius mencari ballot. Semua anggota bekerja dengan kemampuan terbaik mereka. Ada yang meminta pada teman-teman, adik kelas, guru-guru, sekolah-sekolah, bahkan sampai ada yang berpetualang ke kantor polisi dan rumah sakit (padahal tidak ada yang kenal orang disitu). Kami fokus untuk menang. Dan diakhir periode, kami berhasil mengumpulkan 1491 ballot. Kami optimis kami akan menang, karena melihat klasmen sementara, yang tertinggi hanya 900 lebih sedikit.

Dan hari pengumuman pun tiba. Para juara dibacakan sesuai urutan yang saya tulis di atas (kalau tidak salah ingat). Dan kami kaget sekaligus gembira ketika pada gelar the best on feature writing, nama tim kamilah (The Dancing Grass) yang dipanggil. Kami menang karena berita feature yang kami tulis paling menarik. “Wah, kita bakal dapat dua nih.” Gumam saya dalam hati. Kami optimis akan menang dalam the most favorite juga.

Ternyata salah. Saat diumumkan, ternyata yang menjadi tim paling favorit bukan tim kami. Tim kami hanya 1491 dan tim pemanang 4000 lebih. “Gila! Dapat dari mana itu?” Heran saya dalam hati. Namun saya dan teman-teman tidak kecewa. Kami kalah, berarti memang takdirnya kalah. Setidaknya kami sudah berusaha sebaik-baiknya. Meski ada isu yang santer beredar bahwa tim yang menang itu membeli kartu suaranya, kami tak ambil pusing. Kami anggap itu bagian dari permainan. Dan meski target kami meleset, kami tetap bersyukur karena telah diganjar Tuhan dengan kemenangan dalam kategori yang lain.

Comments

Post a Comment

Popular posts from this blog

Download Ringkasan Materi Fisika SMA Kelas 1-3 Lengkap

Pengalaman Magang di Traveloka (Summer Intern)

Visi, Misi, dan Tujuan Hidup

Pengalaman Traveling ke Guangzhou, China

Transportasi dari UI ke Soekarno-Hatta