Aku Belajar karena Aku Mau

Sewaktu TK, motivasi belajarku adalah murni karena kesenangan. Aku merasakan kepuasan tersendiri ketika berhasil mengenali huruf baru, bisa membacanya, dan menuliskannya pada buku kotak-kotakku. Ketika SD, motivasi belajarku adalah ingin menjadi lebih baik dari teman-temanku. Senang rasanya menjadi yang paling pintar dan dapat mengajari mereka. Senang juga banyak yang menyukaiku, baik teman maupun guru. Dan senang pula ketika rapor dibagikan, orang tuaku memujiku karena mendapat peringkat satu.

Ketika SMP, semakin banyak hal yang aku kenal. Komputer dan internet memberikan ketertarikan baru dan lebih besar dari yang dapat diberikan buku. Dengan internet aku bisa mendapatkan informasi, gambar, bahkan bermain game bersama teman-teman. Selain mendapatkan pengetahuan, aku juga mendapatkan kesenangan darinya. Sejak saat itu waktu belajarku sangat tersita untuk bermain komputer dan internet.

Di SMP aku juga mulai mempertanyakan untuk apa belajar macam-macam pelajaran, yang toh tanpa mempelajarinya orang tetap bisa memperoleh penghidupan. Aku mempunyai pemikiran seperti itu karena melihat lingkungan sekitarku. Aku hidup di lingkungan pedagang –Bapak ibuku, kakekku, tetanggaku- jadi kulihat ilmu-ilmu seperti matematika, fisika, dan kimia itu tidak bermanfaat dalam hidupku kelak. Apalagi waktu itu ilmu tersebut diajarkan dengan tidak enak. Guru matematikaku sering datang telat, mengajarnya terlalu cepat (seolah semua siswa dapat belajar matematika dengan cepat), dan tidak pernah menjelaskan manfaat yang bisa kuperoleh dari belajar pelajaran itu. Semangatku belajar matematika menurun. Aku sering tidak belajar dulu sebelum masuk kelas. Sering juga tidak mengerjakan PR karena merasa sama sekali tidak tertarik. Akibatnya aku semakin ketinggalan dan membenci pelajaran itu. Padahal di SD aku menyukainya.

Sewaktu SMA aku masih merasakan hal yang sama. Guru-guruku tetap tidak pernah menjelaskan apa gunanya belajar pelajaran yang mereka ajarkan. Aku berharap minimal mereka menjelaskan apa asyiknya belajar ilmu itu. Kan pelajaran SMA lumayan sulit. Jika kita tidak punya tujuan yang ingin dicapai dalam belajar, sangat berat rasanya belajar itu. Kebetulan aku tidak terlalu berkeinginan mendapatkan nilai 100 atau peringkat 1. Aku sudah pernah mendapatkannya sewaktu SD. Rasanya biasa saja. Lebih menyenangkan rasanya ketika pandanganku menjadi lebih tercerahkan karena memahami ilmu yang kupelajari. Atau ketika aku punya keterampilan baru yang bisa kupakai dalam kehidupan sehari-hari.

Karena bosan dengan pelajaran sekolah, aku mencari hal lain yang menarik untuk dipelajari. Masih sama dengan SMP, aku tertarik dengan komputer dan internet. Bedanya, ketika SMP aku lebih suka belajar menggunakan dan mengotak-atik berbagai aplikasi, ketika SMA aku belajar mencari uang. Aku senang mempelajari komputer dan internet karena dapat kurasakan langsung manfaatnya dalam hidupku. Aku mendapatkan satu juta pertamaku sewaktu SMA. Hasil kerjaku sendiri. Nikmat sekali rasanya. Jauh berbeda dibandingkan rasanya belajar matematika saat itu. Karena aku tahu apa yang ingin kucapai dalam belajar mencari uang di internet itu, aku tidak patah semangat ketika menemui kesulitan. Aku punya tujuan. Aku merasakan manfaatnya.

Kuamati teman-temanku, sepertinya tidak sedikit yang merasakan hal yang sama denganku. Mereka tidak menemukan alasan kenapa harus belajar, misalnya fisika, sementara untuk belajar musik, mereka mempunyai banyak penyemangat. Dengan bermain musik mereka merasa gembira, lepas pikiran-pikiran yang memberatkan. Mereka juga punya tujuan yang jelas kenapa mereka harus belajar sampai bisa, yaitu agar bisa tampil di pentas seni sekolah atau memenangi perlombaan. Selain itu teman-teman mereka juga menyukai orang yang bisa bermain musik. Itu motivasi yang kuat untuk belajar.

Masalah lain dari guru di SMA adalah semakin kurangnya perhatian. Tidak jarang ada jam kosong akibat guru tidak mengajar. Ketika mengajar pun sering para siswa ramai sendiri di kelas, membicarakan berbagai hal lain di luar pelajaran, entah karena cara gurunya mengajar kurang menyenangkan atau karena mereka belum menemukan tujuan belajarnya. Tapi kurasa dua-duanya benar. Kadang, ada juga guru yang selama jam pelajaran yang dibicarakan bukan materi pelajaran, tetapi cerita pribadi tentang guru tersebut, pengalamannya, atau kejadian-kejadian yang baru saja dialami. Dapat dimaklumi kalau materi pelajaran yang diajarkan memang sudah habis atau cerita tersebut ada hubungannya dengan pelajaran. Tapi sering kali tidak ada hubungannya. Siswa tidak mendapatkan sesuatu yang bermanfaat, justru jadwalnya terganggu karena mereka harus belajar sendiri materi yang terlewat tersebut di rumah. Itu memberatkan. Apalagi jika materinya sulit. Kan siswa juga butuh waktu untuk bermain, bergaul, berorganisasi, kegiatan ekstrakurikuler, mengerjakan PR, dan kegiatan-kegiatan lain.

Dan lagi, entah kenapa, di SMA mencontek menjadi semakin umum. Mungkin karena pelajarannya semakin sulit dan kebanyakan siswa tidak menemukan alasan untuk belajar, makanya mereka memilih jalan yang mudah. Tapi yang membuat kecewa bukan itu. Yang mengecewakan adalah guru-guru kebanyakan membiarkan siswanya mencontek, padahal seharunya mereka mengingatkan dan membimbing ke arah yang benar. Tapi mereka justru bersikap seolah-olah tidak mengetahui ketika ada siswa yang mencontek sewaktu ujian. Sebenarnya mereka tahu. Sungguh hal itu sangat menyakitkan. Rasanya tidak ada gunanya lagi belajar keras dan berlaku jujur. Toh nyontek juga dianggap biasa-biasa saja.

Aku kecewa. Sejak saat itu aku punya impian untuk menjadi pengusaha, demi mengumpulkan banyak uang. Dengan uang itu, aku ingin mendirikan sekolah yang terintegrasi, mulai TK sampai SMA. Sekolah di mana guru-gurunya dapat memberikan perhatian yang dibutuhkan siswa. Sekolah di mana guru-gurunya akan selalu menjelaskan apa gunanya mempelajari pelajaran tertentu, sehingga siswa mempunyai alasan untuk tetap bertahan ketika menemui kesulitan dalam belajar. Sekolah di mana guru-gurunya adil menggunakan waktu pelajaran, tidak menggunakan jam pelajaran untuk membicarakan hal-hal yang tidak relevan, yang akhirnya mengganggu kegiatan lain siswa. Sekolah di mana guru-gurunya mengajarkan ilmu yang mereka sendiri mencintainya, sehingga mereka juga dapat mengajar ilmu tersebut dengan penuh semangat. Dengan menyenangkan. Dengan contoh-contoh penerapan dalam kehidupan nyata. Guru yang bisa menanamkan tujuan ke dalam hati siswanya, sehingga mereka yang malas mau menjadi rajin, atas keinginan mereka sendiri.

Adakah guru yang seperti itu? Ada. Sewaktu mempersiapkan ujian SNMPTN aku menemukan bimbingan belajar yang metode belajarnya menggunakan teknologi multimedia. Jadi, aku belajar dengan melihat video flash yang merupakan rekaman dari suara dan tulisan guru pada papan digital. Aku bisa mengulang-ulang pelajaran jika aku belum paham. Menarik. Tapi yang paling menarik bukan itu. Yang paling menarik adalah gurunya yang selalu menceritakan manfaat dari pelajaran-pelajaran yang mereka ajarkan, sehingga aku jadi punya alasan kenapa aku harus belajar keras. Aku menikmati pelajaran. Dapat kurasakan guru-guru di sana mencintai apa yang mereka ajarkan. Terlihat dari semangatnya, metodenya yang unik, dan contoh-contoh yang diberikan dekat dengan kehidupan sehari-hari. Semoga semakin banyak guru-guru seperti mereka.

Comments

  1. cara meng-copy link bannner nya gimana ya? sudah berkali-kali saya coba tapi hanya kode url yg muncul, banner nya tidak muncul. trims

    ReplyDelete
    Replies
    1. Paste kodenya di bagian HTML Mas, bukan Compose. :)

      Delete
  2. antara semangat pendidik dan pengusaha .
    sukses mas ngga .. :D

    ReplyDelete
  3. Salam.

    Bener kata mas Alam, mas Hangga ini memang orang yang serius.
    Sukses mulia ya mas.

    Salam sehati

    ReplyDelete
  4. Keren mas Hangga !!
    aku jg sependapat ttg guru yg kaya gitu.

    ReplyDelete

Post a Comment

Popular posts from this blog

Download Ringkasan Materi Fisika SMA Kelas 1-3 Lengkap

Pengalaman Magang di Traveloka (Summer Intern)

Visi, Misi, dan Tujuan Hidup

Transportasi dari UI ke Soekarno-Hatta

Pengalaman Traveling ke Guangzhou, China