Idealis, Materialis, dan Tujuan Hidup

Dalam Madilog yang ditulis Tan Malaka, dijelaskan tentang filsafat yang (untuk mudahnya) dibagi menjadi dua, idealis dan materialis. Orang yang menganut idealisme percaya bahwa ide ada lebih dulu daripada material. Sedang orang yang menganut materialisme percaya bahwa material ada lebih dulu dari ide.

Seorang idealis percaya pada hal mistik, gaib. Seorang materialis percaya pada hal nyata, sains. Jika diterapkan dalam tujuan hidup, ketika saya menjadi idealis, saya akan hidup seperti ini:

Saya percaya tentang ide adanya Tuhan, akhirat, surga, dan neraka. Maka saya akan menjadi penganut agama yang taat, berbuat kebaikan sesuai yang dianjurkan dalam kitab, dan menghindari keburukan yang menyebabkan dosa. Saya akan lebih mengutamakan tindakan yang menghasilkan kebaikan di akhirat -karena lebih besar kenikmatannya, dan lebih kekal- daripada kenikmatan dunia (yang hanya sesaat). Dunia tak berarti banyak bagi saya, selain sebagai ladang untuk berbuat kebaikan, berbakti kepada Tuhan.

Jika saya memilih sebagai materialis, maka akan seperti ini jadinya hidup saya:

Saya tidak percaya tentang hal-hal gaib. Saya percaya pada hal nyata. Hukum alam yang mengatur segalanya. Jika malam-malam tiba-tiba di dapur ada suara wajan jatuh, mungkin itu karena ulah tikus, yang jelas bukan hantu. Saya tidak percaya hantu. Hantu tidak material. Maka dengan begitu, saya juga tidak percaya kehidupan setelah kematian. Hal itu tidak material. Jika begitu, hidup saya bakal benar-benar berakhir setelah saya mati. Punah, tanpa bekas. Jika rata-rata hidup orang Indonesia 60 tahun, maka bisa diasumsikan, jatah hidup saya tinggal 40 tahun. Saya bisa memilih antara menikmati waktu yang tersisa itu atau mati, hilang selamanya.

Maka saya akan cenderung memaksimalkan kenikmatan yang ada di dunia. Ya, karena saya tak percaya selain yang material. Saya akan hidup sepenuhnya, saat ini, karena memang hanya ini waktu yang saya punya. Setelah masa hidup lewat, saya akan benar-benar hilang. Pilihan untuk berbahagia adalah sekarang. Lakukan apapun yang membuat saya senang sekarang. Yang membuat saya bahagia sekarang. Yang membuat saya tersenyum sekarang.

Seperti yang dituliskan Pram dalam Jejak Langkah, bahwa, tidak ada yang lebih sederhana daripada hidup. Saya pikir itu benar, andaikata saya sudah menemukan, memutuskan, atau menerima diri sebagai seorang idealis atau materialis. Hidup jadi lebih mudah, andaikan saya sudah memutuskan jalan hidup mana yang akan ditempuh.

Masalahnya, saya belum tahu mana yang benar. Yang saya tahu, keduanya menawarkan kebahagiaan dengan risikonya masing-masing. Menghabiskan waktu diantara keduanya, itu yang membuat hidup jadi sulit.

Comments

Popular posts from this blog

Download Ringkasan Materi Fisika SMA Kelas 1-3 Lengkap

Pengalaman Magang di Traveloka (Summer Intern)

Visi, Misi, dan Tujuan Hidup

Pengalaman Traveling ke Guangzhou, China

Transportasi dari UI ke Soekarno-Hatta