Yang Bertindak Yang Berhasil

Malam ini saya memperoleh kabar menggembirakan tentang seorang teman yang akan berangkat ke Jepang untuk short course. Dia teman yang saya kenal rajin dan pekerja keras. Sejak SMA dia dikenal jago Bahasa Inggris dan merupakan salah satu siswa berprestasi. Ketika masuk kuliah, saya kira hal itu tidak berubah, malah dari yang saya dengar, dia semakin hebat saja. Saya sudah jarang bertemu, meskipun kuliah kami berdekatan, dia di Bogor dan saya di Depok.

Karena keberhasilannya, saya jadi ingat beberapa waktu lalu saya sempat getol ingin pergi ke Paris. Sayangnya, semangat itu hanya bertahan beberapa bulan saja. Padahal, jalan untuk ke sana sudah terbuka di depan mata, melalui konferensi, tinggal cari kendaraan untuk berangkat saja. Namun, rupanya saya terlalu malas memperjuangkannya. Karena sedikit-banyak kendala, saya menyerah.

Lalu beberapa bulan berikutnya, saya mencoba lagi melalui Total Summer School. Tapi, lagi-lagi saya menyerah di tengah jalan, tidak berani ikut FGD. Padahal seandainya lolos, berangkat ke Paris akan gratis. Namun, saya terlalu penakut. Padahal nothing to lose.

Berbeda dengan teman saya tadi. Dia, setahu saya sejak SMA sudah punya cita-cita untuk ke luar negeri. Waktu itu kami pernah bercerita dia ingin kuliah di Australia. Mungkin untuk S2, saya agak lupa. Untuk itu, dia belajar Bahasa Inggris dengan giatnya. Tidak malu, tidak gengsi. Dia rupanya sadar betul kalau orang belajar itu salah-salah tidak apa-apa. Tidak seperti saya yang malu kalau salah dilihat orang. Alhasil saya tidak melakukan apa-apa. Pengen-pengen saja ke luar negeri. Teman saya, berusaha tiap hari memperbaiki kualitas dirinya. Dan sekarang bisa dilihat, yang bertindak yang berhasil. Ketika ada kesempatan, teman saya siap menyambutnya. Tidak seperti saya yang justru sembunyi ketika kesempatan emas datang.

Padahal kalau mau PD, kemampuan tertulis saya juga tidak jelek, bahkan bisa dibilang lumayan. Di kosan juga ada teman saya yang jago Bahasa Inggris yang mau berlatih bersama. Tapi, itulah saya kemarin: penakut, pemalu, gengsian; lebih memilih jadi bodoh daripada berani belajar, berani salah di depan umum. Tapi sekarang, thanks to my friend, Nur Kholiq, saya akan lebih berani sepertimu.

Comments

Popular posts from this blog

Download Ringkasan Materi Fisika SMA Kelas 1-3 Lengkap

Pengalaman Magang di Traveloka (Summer Intern)

Visi, Misi, dan Tujuan Hidup

Transportasi dari UI ke Soekarno-Hatta

Pengalaman Traveling ke Guangzhou, China