Pengalaman Magang di Traveloka (Summer Intern)

Magang di Traveloka merupakan pengalaman yang rewarding, dilihat dari pekerjaannya, lingkungan kerjanya, dan juga berbagai benefit yang didapatkan.

Saya magang saat liburan semester genap, yaitu pada Juni-September 2016 (summer intern), di posisi SEO Executive intern. Saat itu ada sekitar 20-an anak magang seangkatan saya di Departemen Marketing & Analytics. Selain SEO, di Marketing & Analytics ada bagian-bagian seperti SEM, Partnership & Promotion, Digital Marketing, Product Marketing, dan Marketing Technology.


Ngomong-ngomong, apa sih SEO? Dan kerjaan magang di SEO ngapain? Sebelum kesitu, mari kita bahas...

Pekerjaan Anak Magang di Traveloka


Sebelum punya pengalaman magang, saya sering mendengar kalau kerjaan anak magang banyak yang unik-unik: dari cuma ngurusin administrasi (data entry, fotokopi), hingga ngebuat kopi (ini sepertinya terinspirasi sinetron), atau bahkan banyak gabutnya. Tentu saja gak semua orang yang pernah magang ceritanya begini. Yang magang di consulting firms seperti BCG ceritanya justru sangat menarik. But, overall cerita anak magang kurang menjanjikan.

Tapi Alhamdulillah, di Traveloka saya dapat kesempatan untuk belajar banyak. Kerjaan anak magang di Traveloka tidak beda dengan kerjaan karyawan full-time, which means kita bisa belajar sama banyaknya dengan karyawan full-time, juga dapat tanggung jawab yang sama gedenya. Well, gak sama gede secara keseluruhan sih. Jadi misal karyawan full-time ngerjain A, B, C, D. Kita mungkin ngerjain A, C. Tapi dalam A dan C itu, kita tanggung jawab penuh. Jadi kita bisa belajar secara substansial di sini.

Karena langsung dikasih tanggung jawab gede, kita harus cepet belajar. Bukan yang paling penting kita udah ahli di bidang yang bakal kita kerjain apa belum, tapi kita bisa cepet belajar. Sepengamatan saya, kemampuan cepet belajar ini salah satu karakteristik yang dicari dari kandidat yang ingin melamar ke Traveloka.

Well, intinya, pekerjaan anak magang di Traveloka itu nggak remeh-remeh. Langsung dikasih tanggung jawab serius, jadi sehari-harinya sangat menarik.

Trus, gimana pengalaman di SEO?

Magang di SEO

Apa itu SEO?

SEO adalah Search Engine Optimization, salah satu channel digital marketing, yang intinya gimana membuat suatu website bisa ranking di halaman hasil pencarian Google yang organik (bukan iklan ya) untuk kata kunci tertentu.

Kalau nyari "apa itu SEO" di Google mungkin kamu bakal banyak menemukan tentang on-page dan off-page. Memang dua hal ini adalah strategi yang paling umum digunakan di SEO.

On-page intinya bagaimana mengoptimasi faktor-faktor di halaman web kita. Sedangkan off-page adalah mengoptimasi faktor-faktor yang di luar halaman web kita.

Faktor on-page salah satunya adalah konten. Sedangkan faktor off-page salah satunya adalah link. Jadi untuk mengoptimasi suatu web, kita bisa membuat konten yang bagus dan juga mendapatkan link yang bagus untuk halaman kita.

Kerjaan anak magang di SEO Traveloka cukup banyak berkaitan dengan dua hal itu. Saya mungkin gak bisa cerita lebih banyak tentang detail pekerjaannya, tapi intinya saya belajar banyak dari kerjaan-kerjaan di Traveloka, walaupun sebelumnya saya sudah belajar dan ngejalanin SEO sejak SMA.

Lingkungan Kerja di Traveloka

Yang saya maksud dengan lingkungan kerja ini antara lain: rekan kerja, budaya, dan kantor secara fisik.

Pertama, tentang rekan kerja. Di divisi SEO saya menemukan orang-orang yang membuat saya nyaman bekerja. Senior members dengan ramah dan senang hati membagikan ilmunya untuk anak-anak intern. Oh ya, kebetulan saya ada teman waktu intern dulu, jadi dua orang di SEO, Andre dari ITS Surabaya dan saya. Andre ini orangnya juga baik dan supportif, bersedia untuk saling membantu.

Mentor saya waktu itu mas Wandry. Beliau ini SEO paling senior di Traveloka. Saya belajar banyak dari mas Wandry, yang dengan sabarnya mengajari dan memberikan kepercayaan ke saya. Terima kasih mas!

Untuk rekan-rekan di luar SEO, saya tidak terlalu banyak yang kenal. Cuman dari kepo-kepo di LinkedIn, mereka-mereka yang selantai dengan saya di Wisma 77 Tower 2 Lantai 21 ini orang hebat-hebat.

Ada yang pernah kuliah di HBS (Harvard Business School yang famous itu), meskipun nggak sampai lulus (kamu mungkin tahu siapa orangnya). Lulusan kampus luar negeri lain yang bagus-bagus juga gak sedikit, seperti NUS dan NTU. Mantan konsultan juga ada, dari BCG, Accenture, dan McKinsey. Juara-juara OSN juga banyak. Intinya, mereka dengan pencapaian yang luar biasa.

Senang sekali berada di lingkungan orang-orang yang high achiever dan juga baik-baik, bisa belajar banyak dari mereka. Saya misalnya pernah sharing-sharing soal gimana rasanya kuliah MBA dengan beberapa orang lulusan INSEAD, MIT, dan juga SBM-ITB. Mereka yang bersedia meluangkan waktunya untuk ngobrol dan berbagi tips dengan anak intern ini padahal orang-orang yang super sibuk, salut!

Benefit Anak Magang di Traveloka

Selain pekerjaannya yang rewarding dan lingkungan kerja yang positif dan kompetitif, benefit magang di Traveloka juga di luar ekspektasi saya.

Bukan berarti Traveloka membayar paling tinggi dibandingkan perusahaan bonafit yang lain, tapi gaji anak magang di Traveloka bisa jadi lebih tinggi dari banyak posisi full-time di perusahaan umum lainnya.

Untuk angka jelasnya, dulu Qerja.com pernah mengeluarkan survey, ya kira-kira segitulah.

Tapi selain monetary benefit, magang di Traveloka juga dapat banyak benefit lain, seperti free lunch, buah tiap pagi, coffee machine, minum gratis, dan dapat fasilitas kerja yang mumpuni (laptop dan tools yang dibutuhkan komplit tersedia, dengan kualitas yang top).

Tips Seleksi Magang di Traveloka

Tertarik magang di Traveloka? Jika boleh memberikan sedikit tips, kamu bisa mempersiapkan beberapa hal ini:
  • Siapkan resume terbaikmu dalam 1 lembar. Beberapa orang masih belum tahu kalau rekruter tidak punya waktu untuk membaca CV yang terlalu panjang dan bertele-tele. Untuk contoh CV yang bagus, kamu bisa lihat resume Rakina (pernah intern di Google, sekarang di Traveloka juga -walaupun saya belum kenal orangnya sih) di sini.
  • Asah kemampuan analisis dan problem solving. Dulu saya 3 kali interview, 2 diantaranya banyak ditanyai pertanyaan-pertanyaan yang menguji analytical and problem solving skills. Saya merasa cukup terbantu dulu sempat membaca buku semacam McKinsey Mind, How to Get into the Top Consulting Firms, dan sejenisnya. Pertanyaan-pertanyaan analitis dan problem solving bisa ditemui banyak di internet, jadi bisa latihan dulu.
  • Satu sesi dari 3 interview adalah tentang SEO. Meskipun kamu nggak harus ahli dulu waktu melamar, tapi punya pengetahuan atau pengalaman di bidang yang akan kamu kerjakan akan sangat membantu. Saat interview saya definitely bukan seorang ahli SEO, tapi saya menunjukkan upaya, dari apa yang sudah saya pelajari dan pernah praktikkan, dan juga kemauan untuk terus belajar.
Semoga sharing pengalaman ini bermanfaat ya. Jika ada yang ingin didiskusikan, monggo melalui komentar di bawah. :D

Pom Bensin dan Jiwa Melayani

Banyak kali, ketika saya mengisi ulang bensin motor di berbagai SPBU, sang petugas SPBU menumpahkan beberapa tetes bensin saat mencabut selang dari tangki motor. Menurut saya, seharusnya selang dibiarkan beberapa detik dulu sampai semua minyak masuk ke tangki, sehingga tidak ada yang tercecer percuma.

Selain itu, tidak jarang petugas SPBU memasang wajah cemberut dan berinteraksi secara tidak ramah dengan pelanggan. Bagi saya, mereka kurang memahami tentang bagaimana seharusnya melayani pelanggan.

Ketika saya di Thailand, petugas SPBUnya sangat ramah. Saat pelanggan datang, mereka bertanya dengan ramah berapa pelanggan mau isi tangkinya. Bahkan ketika beberapa kali saya kesulitan membuka tangki motor sewaan yang kebetulan berbeda dengan motor yang saya pakai di Indonesia, mereka dengan sigap membantu membukakannya.

Mereka tidak pernah mencecerkan bensin ketika mencabut selang. Bahkan, seringkali mereka dengan cepat membantu memasang tutup tangki motor ketika bensin selesai diisikan, ketika melihat pembeli sedang sibuk mengambil uang. Diakhir transaksi, mereka bilang terima kasih.

Saya jadi berpikir, mana ya yang katanya orang Indonesia ramah?

Dalam Diam

Kelas 3 SMA, saya ingin pergi ke Bali bersama teman-teman organisasi untuk liburan bersama setelah masa tugas kami usai. Namun, apa mau dikata, orang tua saya saat itu tidak ada uang untuk memberangkatkan saya. Saya pun mengurungkan keinginan tersebut.

Beberapa hari sebelum berangkat, teman-teman panitia acara liburan mengajak saya bicara secara pribadi, mereka berkata bahwa saya bisa berangkat secara gratis, karena organisasi kami masih punya uang lebih untuk mensubsidi biaya saya.

Saya awalnya ragu, namun akhirnya memutuskan untuk berangkat setelah beberapa teman meyakinkan bahwa saya berhak untuk "bonus" itu. Saya pun liburan ke Bali dengan gratis, dan saya senang.

Beberapa tahun setelah itu, entah bagaimana awalnya, saya mendengar dari teman baik saya bahwa dulu, dia diam-diam membayari liburan saya ke Bali. Jadi, bukan uang organisasi yang sisa, tapi dia diam-diam dan meminta teman yang lain bilang kalau itu dari organisasi.

Saya hanya bisa terdiam lama, untuk kemudian mengucapkan terima kasih dengan canggung.

"Kebaikan yang dilakukan dalam diam, bisa jadi dampaknya jauh lebih besar daripada yang ditunjuk-tunjukkan."

Sudut Pandang

"You must be the change you wish to see in the world." - Mahatma Gandhi

Saya setuju dengan yang dikatakan Gandhi, bahwa kita harus menjadi perubahan yang kita harapkan, alih-alih terus-terusan menuntut orang lain atau dunia menjadi sesuai dengan keinginan kita.

Hal ini berlaku dalam banyak aspek kehidupan. Dalam studi, alih-alih mengeluhkan guru yang tidak pandai mengajar, lebih baik belajar mandiri dan mencari orang lain untuk mengajari. Apalagi sekarang sudah banyak sumber belajar alternatif di internet, seperti Zenius, Khan Academy, TED-Ed, dll.

Dalam kehidupan bernegara, daripada terus-terusan mengkritik pemerintah, lebih baik berfokus pada apa yang bisa kita lakukan. Seperti Leonardo Kamilius, yang alih-alih terus-terusan mengkritik pemerintah yang tidak sebagus negara tetangga dalam menanggulangi kemiskinan, lebih memilih untuk membuat perubahan dengan Koperasi Kasih Indonesia, yang membantu ribuan warga miskin di Jakarta lepas dari kemiskinan.

Dalam beragama, alih-alih menjelek-jelekkan wanita-wanita yang berbaju seksi dan mengundang syahwat, lebih baik mengendalikan diri, menjaga pandangan dan nafsu. Toh kalau diabaikan, hal itu biasa saja.

Dalam memilih pemimpin, daripada terus-terusan menghujat pemimpin karena alasan beda agama, lebih baik siapkan diri sendiri dan anak-anak untuk jadi pemimpin yang sama baiknya atau lebih baik dari pemimpin yang berbeda itu.

Daripada terus-terusan mencacimaki para koruptor, lebih baik membiasakan diri lebih jujur.

Daripada terus-terusan muak dengan kebusukan politik, lebih baik jadi orang jujur dan terjunlah ke politik.

Daripada terus mengeluh bumi makin panas, lebih baik diri sendiri mulai lebih bijak menggunakan listrik, alat transportasi, dan mulai menanam pohon.

Daripada berfokus ke hal-hal yang tidak mengenakkan, lebih baik berfokus ke hal-hal yang membuat keadaan lebih baik.

Dan sesungguhnya, dunia ini juga masih banyak baiknya.

10 Mitos Tentang Orang Intovert

Ada artikel menarik dari Lifehack.org berjudul "Top 10 Myths About Introverts That Simply Aren’t True". Sesuai dengan judulnya, artikel tersebut dalam Bahasa Inggris, dan berikut saya terjemahkan secara bebas.

Mitos #1: Orang introvert tidak suka bicara

Ini tidak benar. Faktanya, orang introvert tidak bicara kecuali ada sesuatu yang harus mereka katakan. Mereka tidak menyukai basa-basi. Ajak orang intovert bicara tentang hal yang mereka senangi, maka mereka tak akan berhenti hingga berhari-hari.

Mitos #2: Orang introvert adalah pemalu

Tidak ada hubungan antara perasaan malu dengan menjadi intovert. Introvert bukan berarti takut dengan orang-orang. Apa yang mereka butuhkan adalah alasan untuk berinteraksi. Mereka tidak berinteraksi hanya untuk 'berinteraksi'. Kalau Anda ingin berbicara dengan seorang introvert, bicara saja. Tidak perlu pusing untuk menjadi sopan.

Mitos #3: Orang introvert itu kasar

Orang introvert sering kali berbicara langsung pada intinya. Mereka ingin setiap orang jujur dan apa adanya, tanpa harus dihalus-haluskan. Sayangnya, hal ini tidak berlaku dalam kebanyakan keadaan sehari-hari, sehingga orang introvert merasakan banyak tekanan untuk menyesuaikan diri, yang bagi mereka sangat melelahkan.

Mitos #4: Orang introvert tidak suka orang lain

Justru kebalikannya, orang intovert sangat menghargai teman-teman yang mereka miliki. Mereka dapat menghitung teman dekatnya dengan satu tangan. Jika Anda dianggap sebagai teman oleh seorang introvert, Anda mungkin mempunyai seorang teman yang loyal seumur hidup.

Mitos #5: Orang introvert tidak suka keluar ke keramaian

Tidak benar. Orang introvert hanya tidak suka keluar ke keramaian untuk waktu yang lama. Mereka juga berusaha menghindari kerumitan terkait kegiatan publik. Mereka menyerap data dan pengalaman dengan sangat cepat, sehingga mereka tidak perlu di sana terlalu lama. Mereka ingin pulang, recharge, dan memproses apa yang sudah dialami. Recharging adalah proses yang sangat penting untuk orang introvert.

Mitos #6: Orang introvert selalu ingin sendiri

Orang introvert sangat nyaman dengan pikiran mereka sendiri. Mereka selalu berpikir. Mereka bermimpi. Mereka selalu punya game yang harus dimainkan atau masalah yang harus diselesaikan. Tetapi, mereka bisa menjadi sangat kesepian kalau mereka tidak punya seseorang untuk membagikan hasil pemikiran mereka. Mereka membuat hubungan yang tulus dan asli dengan satu orang pada satu waktu.

Mitos #7: Orang introvert itu aneh

Orang introvert seringkali merupakan orang yang individualis. Mereka tidak mengikuti kerumunan. Mereka lebih suka dihargai dengan cara hidup mereka yang baru/berbeda. Mereka berpikir untuk diri mereka sendiri, dan oleh sebab itu, mereka sering menantang norma. Mereka tidak membuat keputusan berdasarkan apa yang sedang populer atau ngetren.

Mitos #8: Orang introvert adalah orang yang tidak suka bersosialisasi dan suka menyisihkan diri

Faktanya, orang introvert adalah orang yang kebanyakan melihat ke dalam diri mereka sendiri, memberikan perhatian besar kepada pikiran dan emosinya sendiri. Bukan berarti mereka tidak bisa memberikan perhatian tentang apa yang terjadi di sekitarnya; hanya saja dunia mereka sendiri terasa lebih menarik dan memuaskan bagi mereka.

Mitos #9: Orang introvert tidak bisa rileks dan bersenang-senang.

Orang introvert biasanya rileks di rumah atau di alam, tidak di keramaian. Orang introvert tidak suka mencari sensasi, ketegangan, atau memacu adrenalin. Jika ada terlalu banyak orang berbicara dan berisik, orang introvert akan diam. Hal ini hanya karena orang introvert dan ekstrovert memiliki cara kerja otak yang berbeda.

Mitos #10: Orang introvert bisa "memperbaiki diri" mereka dan menjadi ekstrovert.

Orang introvert tidak bisa "memperbaiki diri" mereka sendiri. Mereka membutuhkan penghargaan atas tempramen alamiah mereka dan kontribusinya terhadap umat manusia. Ada sebuah riset (Silverman, 1986) mengatakan bahwa semakin tinggi IQ semakin besar persentase seseorang adalah introvert.



Semoga jadi lebih bisa memahami orang introvert ya! :D