Keputusan yang Benar

Jika keputusan itu hasilnya baik, meskipun rasanya pahit, itu keputusan yang benar.

Masalahnya, kadang kita terlalu banyak berpikir yang tidak-tidak. Nanti kalau saya putuskan begini, dampaknya gimana? Nanti jelek? Nanti saya sakit? Nanti saya nggak bisa hidup bahagia? dll. yang sebetulnya sangat berlebihan.

Ketika dihadapkan pada situasi pengambilan keputusan, sebenarnya kita dapat dengan mudah menggunakan akal sehat untuk mencari keputusan yang benar, dengan mempertimbangkan baik-buruknya. Namun kadang keputusan menjadi lebih sulit dibuat ketika melibatkan perasaan. Misalnya ketika keputusan yang kita buat tidak hanya mempengaruhi kita, tapi juga orang(-orang) yang kita sayangi.

Di saat seperti itu, kadang kita menjadi lebih peragu. "Kalau saya lakukan ini, gimana ya dampaknya untuk dia?", begitu kira-kira salah satu pemikiran kita.

Alhasil, karena ragu, kita mencari-cari jawaban terus menerus. Bahkan hingga pikiran jadi bingung karena banyaknya pertimbangan.

Akhirnya, bisa jadi kita memutuskan hanya berdasarkan perasaan. Dan biasanya, perasaan itu bias. Kita mungkin jadi salah mengambil keputusan.

Atau lebih parahnya, kita tidak mengambil keputusan. Jadi, hanya terperangkap dalam pilihan dan merasa bingung dalam waktu yang lama.

Jadi, bagaimana caranya mengambil keputusan yang benar?

Pertama, kita harus menerima penuh bahwa kita bertanggungjawab atas diri kita sendiri. Dengan begitu, kita juga menerima bahwa orang lain juga bertanggungjawab atas diri mereka sendiri. Jadi, terlalu banyak mempertimbangkan tentang bagaimana kondisi orang lain ketika kita mengambil keputusan untuk diri kita sendiri, misalnya apa akibatnya untuk mereka, apakah akan buruk, dll., sebetulnya bisa dibilang salah.

Jadi aturan kedua, kembali ke akal sehat saja. Apa baik buruknya untuk kita? Sebenarnya pikiran dan hati kita sudah tahu keputusan apa yang harus diambil. Kita hanya perlu mendengar lebih dalam.

Dan yang ketiga, berani memutuskan. Ketika kita harus memutuskan, biasanya jika tidak segera diputuskan, keadaan akan menjadi lebih buruk. Jadi, berani saja. Putuskan saja. Setidaknya kita sudah berpikir masak-masak dan mendengarkan kata hati. Perkara keputusan itu benar atau salah, baik atau buruk, bisa dilihat nanti ketika sudah diputuskan. So, putuskan!

Ketika saya menghadapi kondisi seperti di atas, saya juga sangat sulit mengambil keputusan. Bahkan saya perlu dipaksa masuk ke kaadaan yang benar-benar sulit dulu hingga saya berani memutuskan.

Namun, meskipun pahit saat diambil dulu, ketika menoleh ke belakang sekarang, saya bisa simpulkan bahwa keputusan yang saya ambil benar. Kenapa? Karena dampaknya baik untuk semua pihak yang saya pertimbangkan. Terutama untuk saya sendiri.

Comments

  1. Alhamdulillah, memang harus jadi pemberani :D

    ReplyDelete

Post a Comment

Popular posts from this blog

Download Ringkasan Materi Fisika SMA Kelas 1-3 Lengkap

Pengalaman Magang di Traveloka (Summer Intern)

Transportasi dari UI ke Soekarno-Hatta

Visi, Misi, dan Tujuan Hidup

Pengalaman Magang Pertama (di PLUS)